Kita terbiasa ngemil buah-buahan, rajin mengkonsumsi kukus brokoli, wortel dan sayuran lainnya, tahu benar tentang lemak baik dan jahat, mengkonsumsi ikan salmon, menghindari daging merah, bahkan memasak hanya dengan minyak zaitun. Tapi di meja makan kita juga bertebaran berbagai multivitamin dan suplemen mineral dalam berbagai merek. Hmmm… bukankah makanan kita sudah cukup bernutrisi? Lantas untuk apa lagi kita mengkonsumsi multivitamin dan suplemen mineral?
Memang ada beberapa ahli yang menyarankan bahwa multivitamin sebetulnya tidak begitu perlu kita konsumsi jika pola makan kita sudah benar, kecuali pada kondisi-kondisi tertentu seperti kurang gizi, dalam masa kehamilan, atau ketika menderita penyakit kronis. Tapi ada juga golongan ahli yang mengatakan bahwa multivitamin tetap perlu walaupun pola makan kita sehat, karena saat ini kita hidup di tengah-tengah dunia yang penuh akan polusi dan radikal bebas yang bisa ‘menyakiti’ kita kapan saja. Jadi semakin bingung, bukan?
Saya pribadi mengakui, memang lebih mudah rasanya menelan pil-pil multivitamin daripada harus ‘bersusah payah’ menyiapkan makanan yang bergizi seimbang. Apalagi kita hidup di jaman serba instant, di mana segala sesuatu harus berjalan dengan cepat, termasuk juga makan. Tapi, beberapa ahli seperti Ian Marber, nutrisionis dan penulis buku The Food Doctor Diet, mengatakan bahwa bahkan formula suplemen tercanggih pun tidak dapat meniru kandungan nutrisi dalam makanan sehat. Michael Van Staten, naturopath dan penulis buku The Superfood Pocket Book : 100 Top Foods for Health juga menyatakan bahwa dalam makanan terkandung banyak serat dan senyawa kimia yang berguna sebagai health-booster yang bahkan kita mungkin belum tahu apa saja serat dan zat kimia itu, dan setidaknya 200 phytonutrients dengan manfaat yang penting bagi kesehatan, yang tidak bisa kita dapatkan jika hanya mengandalkan suplemen semata. Jadi, intinya adalah, suplemen sama sekali bukan tandingan dibandingkan dengan makanan (segar) bergizi.
Namun di kehidupan kita yang supersibuk dan superpolusi, teori ini bisa dipatahkan. Karena survey terakhir dari National Diet and Nutrition di Inggris mengestimasi kurang dari satu diantara 10 orang di UK yang mengkonsumsi makanan sesuai syarat RDA (Recommended Daily Allowance –Jumlah nutrisi yang direkomendasikan harian) dan menunjukkan bahwa konsumsi vitamin A dan B12, zat besi, magnesium dan zinc menurun selama 20 tahun terakhir. Belum lagi jika kita membeli sayur-sayuran dan buah-buahan yang ditanam secara hidroponik yang hampir otomatis akan kehilangan nutrisi berupa mineral-mineral yang berasal dari dalam tanah, atau proses pematangan buah dan sayuran yang tidak alami untuk menjaga kualitas fisik di pasaran. Memang cara ini bisa diatasi dengan cara membeli sayur-sayuran dan buah-buahan organik, atau membeli langsung di petani misalnya, tapi kedua cara ini tidak praktis, apalagi tidak semua jenis sayur-sayuran dan buah-buahan ditanam secara organik, dan kalaupun ada, harganya sudah barang tentu mahal.
To take, or not to take
Well, sebetulnya mengkonsumsi multivitamin dan suplemen mineral tambahan adalah hal yang baik, selama tidak melebihi RDA (umumnya angka RDA ini tertera di label kemasan). Tapi sebenarnya kita bisa kok memperkirakan apakah makanan yang kita makan sudah cukup bergizi atau masih butuh tambahan suplemen dari luar. Caranya adalah dengan merasakan sendiri kondisi tubuh kita. Jika kita selalu merasa lemas dan kurang energi, kulit kita kering dan kusam, kuku mudah patah, mood mudah berubah-ubah, biasanya adalah tanda-tanda umum kekurangan nutrisi. Langkah pertama yang musti dilakukan adalah pastikan makanan kita kaya akan zat gizi, maksudnya jika kita selama ini makan makanan yang tidak seimbang atau bahkan tidak sehat, ya diperbaiki dulu pola makannya. Jika sudah memperbaiki pola makan namun masih merasa kurang sehat, barulah mengkonsumsi multivitamin dan suplemen mineral. Tapi kalau dengan pola makan kita sehari-hari (tanpa suplemen apapun) kita sudah merasa segar dan fresh setiap saat, bisa dibilang kita sudah cukup mendapatkan nutrisi dari makanan kita.
Di bawah ini adalah beberapa suplemen yang populer yang mungkin memang kita butuhkan (dan boleh dikonsumsi hanya jika kita perlukan) :
Vitamin C
Kapan : Jika Anda mudah terkena flu, atau untuk siapapun dengan gejala-gejala awal infeksi (demam, pembengkakan)
Mengapa : beberapa penelitian menunjukkan bahwa 1000mg vitamin C perhari bisa membantu mengurangi gejala-gejala flu dan juga memperpendek durasinya.
Vitamin E
Kapan : jika seseorang memiliki resiko tinggi penyakit jantung yang didapatnya baik dari sejarah keluarga, obesitas, kandungan kolesterol ataupun tekanan yang tinggi
Mengapa : suatu penelitian yang dipublikasikan di New England Journal of Medicine melapurkan bahwa 87.000 orang perawat yang mengkonsumsi 67 mg vitamin E tiap hari selama 2 tahun mengalami penurunan resiko serangan jantung sampai 40%.
Evening Primrose Oil
Kapan : Jika seorang wanita mengalami nyeri payudara sebelum haid
Mengapa : beberapa uji klinis menunjukkan bahwa mengkonsumsi 6 sampai 8 butir kapsul evening primrose oil 500mg setiap hari selama 4 bulan bisa mengurangi nyeri payudara akibat menstruasi.
Magnesium
Kapan : jika seorang wanita menderita keram otot dan migrain saat haid atau sebelum haid
Mengapa : penelitian menunjukkan bahwa mereka yang mengalami nyeri saat PMS memiliki kadar magnesium yang rendah dalam sel darah merah mereka dibandingkan wanita yang tidak mengalami gejala-gejala tersebut. Kekurangan magnesium memang bisa menyebabkan pembuluh-pembuluh darah menjadi kaku. Direkomendasikan mengkonsumsi uplemen magnesium 200 mg perhari selama 3 bulan.
Zinc
Kapan : jika siapapun berusaha untuk memiliki keturunan
Mengapa : Zinc adalah nutrisi yang paling banyak diteliti dalam hal fertilitas pria dan wanita. Kekurangan zat ini bisa menyebabkan perubahan kromosom baik pada pria maupun wanita, yang akan mengurangi fertilitas dan meningkatkan resiko keguguran. Direkomendasikan mengkonsumsi suplemen zinc 30 mg perhari selama 3 bulan sebelum merencanakan kehamilan.
mia, dari berbagai sumber |